PANGGIL AKU “PENGUNGSI”

PANGGIL AKU “PENGUNGSI”

Nduga krisis pendidikan

Hari ini tgl 27 /thn 2020 hari senin

Pagi ini saya berkunjung ke sekolah darurat di weneroma Kabupaten jawijaya tetapi sebelum saya berkunjung ke sekolah darurat ‘saya berpikir bawah tidak ada murid yg di sekolah tetapi semua ruangannya pul dengan murid -murid maka saya cek guru2 tetapi 3 guru yg mendampingi murid-murid yang begitu banyak itu maka kami harap pemerintah kabupaten nduga dan kepala dinas pendidikan segera ambil langkah dalam waktu yang se cepat -cepat nya untuk belajar mengajar seperti biasa.

Wamena 27 2020/ artab

ORANG_PAPUA_BUKAN_MONYET

*Penulis Oskar Gie

SELEBARAN POSKO UMUM
EXODUS PELAJAR DAN MAHASISWA PAPUA
SE – INDONESIA

PASCA PEBEMBAKAN EXPO WAENA BERDARAH – “SECARA MORAL REKTOR UNCEN HARUS BERTANGGUNG JAWAB ATAS TEWASNYA 3 MAHASISWA DAN 1 PELAJAR EXODUS PAPUA”

Ketika kami Posko Umum Exodus Pelajar dan Mahasiswa Papua menduduki Auditorium Universitas Negeri Cenderawasj (UNCEN) Papua pada 23 September 2019, dimana tujuannya itu ialah melakukan negoisasi secara terbuka, demokrasi, dan bertanggung jawab bersama pihak Rektorat Uncen Jayapura. Namun disaat masa aksi sudah menduduki Auditorium Uncen tersebut, malah masa Exodus dipukul mundur dengan pembubaran paksa oleh kehadiran Aparat Gabungan TNI – POLRI tanpa ada kehadiran Rektor Uncen untuk berbicara atau berdialok tatap muka secara langsung dengan kami masa Exodus yang hadir.

Lalu akhir dari kepulangan masa Exodus yang secara sengaja diantar oleh Aparat Gabungan TNI – POLRI ke Expo-Waena (Museum Uncen), malah berakhir dengan kekerasan fisik yang mengakibatkan 3 mahasiswa dan 1 pelajar Exodus meninggal akibat terkena tembak oleh peluru aparat, dan beberapa lainnya luka-luka parah. Sedangkan lainnya sempat melarikan diri, dan tidak kurang dari 100-an orang di tahan selama 2 hari 1 malam di Makobrimob Abepura.

Namun disini, secara spesifik yang mau kami Exodus tegaskan adalah Rektor Uncen Dr. Apolo Safanpo, MT, dimana secara kemanusiaan kami menilai bahwa secara moral dan etik perguruan tinggi, seharusnya beliau bertanggung jawab atas tewasnya 3 mahasiswa dan 1 pelajar Exodus yang terjadi pasca penembakan tersebut. Sebab atas perintah dari ‘mulutnya’ kami 4 orang tewas di hari itu (Senin, 23 September 2019).

MENGAPA DEMIKIAN?

1). Sebab jika seandainya Rektor Uncen menerima kami masa Exodus dengan baik, tanpa harus berneko-neko dengan Aparat Gabungan TNI – POLRI, maka tidak mungkin ada korban jiwa di hari itu.

2). Rektor semestinya paham baik soal masa Exodus akibat permasalahan RASISME SURABAYA, sehingga kampus yang merupakan habitat-ekologis mahasiswa tetap terbuka secara demokrasi. Maka dengan menerima mahasiswa berekpresi di Uncen sebenarnya bijaksana dan tepat. Namun sungguh disayangkan, hal itu tidak terjadi. Rektor justru tidak menerima masa Exodus lalu meminta Aparat Gabungan TNI – POLRI membubarkan masa Exodus dari kampus secara paksa.

3). Kami masa Exodus duduki Uncen tidak mungkin langsung buat onar atau anarkis. Kami saat itu jelas menduduki halaman depan Auditoriun Uncen secara terbuka untuk melakukan negoisasi terkait penggunaan Auditorium Uncen sebagai Posko Umum Exodus.

4). Jika ada alasan terkait indikasi teriakan Papua Merdeka ( Fobia Referendum), Rektor dan Aparat Gabungan mestinya sadar bahwa dengan kehadiran kami Exodus tidak akan serta-merta membuat Papua langsung Merdeka atau Referendum terjadi saat itu. Jadi tidak ada alasan dan sangkut pautnya dengan Fobia tersebut.

5). Seharusnya Rektor Uncen menerima kami masa Exodus sebagai anak dan bapak tanpa harus melakukan koordinasi dengan Aparat Gabungan. Namun secara sepihak, malah mereka diundang dengan kelengkapan siaga satu untuk menghadapi kami masa Exodus dengan jumblah yang lebih dari jumblah kami saat itu.

6). Dan perlakuan seperti ini, telah menunjukan bahwa Rektor Uncen tidak mampuh memimpin Uncen secara moral, fleksibelitas demokrasi, dan kepekaan sosial dalam menghadapi kami masa exodus. Lalu begitu saja membungkam ruang berekspresi di Kampus Uncen secara demokrasi, yang sudah dijamin oleh konstitusi era reformasi ini.

Demikian selebaran ini kami buat, kiranya kita Exodus Pelajar dan Mahasiswa Papua selaku korban rasisme Surabaya, dan seluruh masyarakat Papua tidak lupa bahwa pasca penembakan Exodus di Expo-Waena, Jayapura (23 September 2019) oleh Aparat Gabungan TNI-POLRI, tidak lepas juga dari tidak-adanya moralalitas Rektor Uncen untuk bertanggung jawab atas peristiwa tersebut.

Jayapura, 23 Januari 2020

TABEA, WI WA O, WAA WAA WAA….

LAWAN_RASISME

ORANG_PAPUA_BUKAN_MONYET

# editor Arab

KATA ANAK NDUGA PANGGIL AKU “PENGUNGSI

Oleh: VA Safi’i

“Mama, dingin,” ucap si Anak.
“Sabarlah. Ini hanya hembusan angin malam. Besok, setelah sang mentari datang, dingin pun menghilang. Sekarang, selimutilah tubuhmu dengan mantelnya Mama,” jawab si Mama.

Malam kian larut. Hembusan angin pegunungan menusuk pori-pori kulit.

“Mama, takut,” teriak si Anak.
“Tenanglah, nak. Itu hanya malam. Itu hanya kegelapan. Tutup rapat-rapat matamu. Pelan-pelan dongakkan kepalamu. Lalu, bukalah kedua belah matamu. Begitu indah, bukan. Bintang-bintang bertaburan di angkasa,” bisik sang Mama dengan suara lirih.

Sesaat kemudian…

“Mama, suara apakah itu?”
Dengan memeluk tubuh anaknya, si mama pun berkata: “Itu nyanyian saudara-saudara kita. Mereka bernyanyi mengiringi langkah kita. Mereka bernyanyi menghibur kita. Jangan takut. Hewan-hewan malam itu adalah saudara kita.”

Malam terasa begitu panjang. Bukan hanya satu malam. Tapi bermalam-malam. Entah, sudah berapa malam. Tidak bisa menghitung.

“Mama, kapan kita pulang?” kembali si anak bertanya.
Mendengarnya, si mama hanya bisa diam.

Ya. Begitulah. Mungkin. Begitulah kondisi para pengungsi di Kabupaten Ndugama, Papua. Sudah berbulan-bulan mereka meninggalkan kampung halamannya.

Mereka. Ya, mereka menyusuri lembah dan bukit. Melewati sungai dan hutan. Bertahan hidup dari kejamnya kehidupan malam dan siang.

“Mama….!!!”

Boa noite
Selamat malam
🌷🌷🌷🌷🌷❤

PANGGIL AKU “PENGUNGSI”YANG BERDIAM DI HUTAN 2 TAHUN 2018-2020

PANGGIL AKU “PENGUNGSI”

Oleh: VA Safi’i

“Mama, dingin,” ucap si Anak.
“Sabarlah. Ini hanya hembusan angin malam. Besok, setelah sang mentari datang, dingin pun menghilang. Sekarang, selimutilah tubuhmu dengan mantelnya Mama,” jawab si Mama.

Malam kian larut. Hembusan angin pegunungan menusuk pori-pori kulit.

“Mama, takut,” teriak si Anak.
“Tenanglah, nak. Itu hanya malam. Itu hanya kegelapan. Tutup rapat-rapat matamu. Pelan-pelan dongakkan kepalamu. Lalu, bukalah kedua belah matamu. Begitu indah, bukan. Bintang-bintang bertaburan di angkasa,” bisik sang Mama dengan suara lirih.

Sesaat kemudian…

“Mama, suara apakah itu?”
Dengan memeluk tubuh anaknya, si mama pun berkata: “Itu nyanyian saudara-saudara kita. Mereka bernyanyi mengiringi langkah kita. Mereka bernyanyi menghibur kita. Jangan takut. Hewan-hewan malam itu adalah saudara kita.”

Malam terasa begitu panjang. Bukan hanya satu malam. Tapi bermalam-malam. Entah, sudah berapa malam. Tidak bisa menghitung.

“Mama, kapan kita pulang?” kembali si anak bertanya.
Mendengarnya, si mama hanya bisa diam.

Ya. Begitulah. Mungkin. Begitulah kondisi para pengungsi di Kabupaten Ndugama, Papua. Sudah berbulan-bulan mereka meninggalkan kampung halamannya.

Mereka. Ya, mereka menyusuri lembah dan bukit. Melewati sungai dan hutan. Bertahan hidup dari kejamnya kehidupan malam dan siang.

“Mama….!!!”

Boa noite
Selamat malam
🌷🌷🌷🌷🌷❤